Ini Bedanya Anak Hasil Zina dan Suami Istri SAH

1543 views

Zina adalah pelampiasan biologis kebutuhan seseorang pacaran  sebelum nikah mereka jalan berdua mereka saling tatap tegangan ciuman sampai tidur biologis itu kebutuhan memang tapi pelampiasannya salah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak melarang kita melakukan itu tapi mengikuti syaratnya nikah dan saya sering merasakan perbedaan dalam pengajian-pengajian saya tentunya perbedaan antara zina sama nikah

Perzinaan menjadi perbuatan yang dilarang agama. Alquran bahkan secara khusus melarang manusia untuk mendekati zina. Perbuatan ini pun tergolong sebagai jarimah atau tindak pidana kejahatan. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. QS al-Isra:32.

Anak hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar pernikahan sah menurut ketentuan agama. Anak ini tidak mempunyai hubungan nasab, wali, nikah, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. Anak hasil zina hanya memiliki hubungan nasab, waris, dan nafkah dengan ibu dan keluarga ibunya.

Pelaku Zina Hubungan tersebut tanpa dibedakan apakah pelakunya gadis, bersuami atau janda, jejaka beristri atau duda. Secara istilah, para fuqaha mendefinisikan zina adalah memasukan dzakar ke dalam faraj yang bukan istrinya, bukan campur secara subhat dan menimbulkan kenikmatan. Sedangkan menurut Taqiyudin dalam Kifayatul Akhyar, menjelaskan batasan zina yang mewajibkan had adalah memasukan minimal hasafah dzakar ke dalam faraj yang diharamkan.

Ada dua istilah bagi pelaku zina, yaitu zina muhsan dan zina ghairu muhsan. Yang dimaksud zina muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang telah atau pernah menikah. Sedangkan zina ghairu muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang belum pernah menikah. Islam memandang bahwa perbuatan zina ghairu muhsan yang dilakukan oleh gadis atau jejaka sebagai perbuatan yang tidak wajar, melainkan tetap menganggapnya sebagai zina yang harus dikenakan hukuman  zina.

Hanya kuantitas dan frekuensi hukuman antara zina muhsan dan ghairu muhsan ada perbedaan. Bagi muhsan hukumannya di rajam sampai mati, sedangkan bagi ghairu muhson hukumannya dicambuk seratus kali. Adapun syarat-syarat seorang dapat dikategorikan muhsan adalah baligh, berakal, merdeka, dan terdapatnya senggama dalam nikah yang sah. Baca Juga Menyambut Kelahiran Anak menurut Ajaran Rasulullah Islam melarang keras perbuatan zina bahkan memberikan sanksi yang tegas terhadap yang melakukannya sebagaimana firman Allah SWT Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk QS sl-Isra : 32 Ayat diatas melarang untuk mendekati segala perbuatan perzinaan.

Perbuatan zina kemungkinan besar dapat terjadi apabila melakukan pendahuluannya, seperti memegang-megang, memeluk, mencium dan sebagainya. Zina merupakan perbuatan yang terkutuk, manusia yang normal dan sadar kedudukannya sebagai manusia pasti akan berpendapat bahwa seks bebas merupakan perbuatan terkutuk. Adapun orang yang pernah menikah atau sedang bersuami atau beristri, hukumannya lebih berat lagi yaitu dirajam sampai mati Hal ini disebabkan orang yang berzina muhsan itu pernah merasakan jimak dalam pernikahan yang sah dalam kondisi merdeka, baligh dan berakal

Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu sendiri Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya, dan Dia menunjukkan jalan yang benar Panggillah mereka anak-anak angkat itu dengan memakai nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka panggilah mereka sebagai saudara-saudaramu seagama dan mawla-mawlamu.QS al- Ahzab:4-5

Hadis yang bersumber dari Aisyah RA mengatakan, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abd bin Zamaah pernah berebut terhadap seorang anak. Lantas Sa’ad berkata Wahai Rasulullah, anak ini adalah anak saudara saya Utbah bin Abi Waqqash. Dia sampaikan ke saya bahwasanya ia adalah anaknya. Lihatlah kemiripannya. Abd bin Zama’ah juga ber kata: Anak ini saudaraku wahai Rasulullah. Ia terlahir dari pemilik kasur  ayahku dari ibunya.

Rasulullah SAW pun melihat rupa anak tersebut dan beliau melihat keserupaan yang jelas dengan Utbah. Rasul bersabda: Wahai Abd bin Zama’ah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur atau suami dari perempuan yang melahirkan  dan bagi pezina adalah dihukum batu dan berhijablah darinya wahai SAW dah binti Zam’ah. Aisyah berkata: Ia tak pernah melihat Sawdah sama sekali.HR al-Bukhari-Muslim

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i adalah dua pengertian tentang makna anak itu menjadi hak pemilik kasur suami. Pertama, anak menjadi hak pemilik kasur suami selama ia tidak menafikan atau mengingkarinya. Apabila pemilik kasur suami menafikan anak tersebut tidak mengakuinya dengan prosedur yang diakui keabsahannya dalam syariah. Contohnya melakukan lian. Anak itu pun dinyatakan bukan sebagai anaknya.

 

 

Leave a reply "Ini Bedanya Anak Hasil Zina dan Suami Istri SAH"

Author: 
author