Hukum Suami Sering Membentak Istri di Tempat Umum dalam Islam, Bagaimana?

294 views

Di era sekarang ini, tidak sedikit suami yang memiliki perangai buruk seperti sering membentak istrinya dan selalu menunjukan sifat marah dalam Islam dengan berbagai alasan dan bahkan hanya karena masalah yang sepele.

Karena masalah yang mungkin dihadapi suami, istri menjadi pelampiasan kemarahan dari suami dan akhirnya mendapat perkataan yang kurang baik atau dibentak oleh suami.

Hal yang demikian tentunya sangat berlawanan dengan apa yang sudah disampaikan Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian, yaitu yang paling baik untuk istrinya serta saya yaitu orang yang paling baik diantara kalian pada istriku. HR. Tirmidzi.

Suami adalah pria yang berjanji menjaga seorang wanita dengan baik seumur hidupnya. Menjaganya dari bahaya, mencegahnya tersakiti, dan membesar anak-anak bersamanya. Sayangnya semua janji manis ini terkadang dilupakan suami ketika pernikahan sudah berjalan.

Secara tersirat, orang lainpun akan secara otomatis menduga kualitas hubungan mereka dan bagaimana mereka berumah tangga. Dengan begitu, sebaiknya membentak pasangan dan mengakui kelemahannya di hadapan orang lain itu dihindari saja.

Lapangkanlah jalan dan perjuangan pasangan kita dengan mendapatkan penghargaan berupa pujian atau setidaknya kata-kata yang menyanjung dan tidak melecehkan.

Hak Istri Tidak Dimarahi di Depan Umum
Mengapa?

Islam memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan wanita sebagai makhluk yang istimewa.

Dalam kerja sama di rumah tangga, wanita adalah yang pihak diberi nafkah. Sedang lelaki adalah pemberi nafkah.

Namun seringkali keistimewaan ini disalahartikan oleh para lelaki yang tidak mengerti cara pandang agama terhadap wanita.

Sehingga memperlakukan istrinya dengan seenaknya sendiri, karena merasa berkuasa atas dirinya.

Tak jarang tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi, bahkan disaksikan oleh umum. Begitu pula dengan perilaku membentak dan memarahi istri di depan umum.

Padahal hal yang demikian ini sangat dilarang oleh Nabi, sekalipun dengan alasan yang benar seperti untuk mendidik istri supaya jera dan tidak mengulangi kesalahannya.

Sekalipun tujuannya adalah benar tetap saja harus dengan cara yang benar dan tidak boleh seenaknya sendiri.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

حَقُّ الْمَرْأَةِ عَلَى الزَّوْجِ أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ وَيَكْسُهَا إِذَا اكْتُسِيَ وَلاَ يَضْرِبُ الْوَجْهَ وَلاَ يُقَبِّحُ وَلاَ يَهْجُرُ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ

Artinya : Hak perempuan yang harus dipenuhi oleh lelaki adalah memberinya makan ketika ia makan, memberinya pakaian ketika ia berpakaian; dan tidak memukul wajah. Juga tidak mengumpat, dan tidak membentak-nya kecuali di rumah (tempat yang sepi). (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut menyinggung masalah hak yang harusnya didapat oleh wanita ketika menjadi seorang istri, terlihat hak-hak tersebut adalah untuk memuliakan wanita.

Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa wanita adalah makhluk yang istimewa, oleh karena itu mereka harus mendapatkan hak-hak tersebut dari suami.

Bukan hanya hak mendapatkan nafkah, seperti makan dan pakaian. Namun juga hak diperlakukan baik oleh suami. Tidak dipukul wajahnya, tidak diumpat dan dibentak suami kecuali di rumah atau tempat yang sepi.

Hal tersebut pun boleh dilakukan dengan banyak catatan. Sehingga tidak lantas setiap permasalahan kecil, suami berhak membentak dan mengumpat istri meskipun sedang berada di rumah.

Didiklah Istrimu dengan Cara yang Baik

Setiap permasalahan tentunya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang baik dan menentramkan hati.

Banyak cara baik yang bisa diterapkan. Misalnya dengan komunikasi yang baik, dialog 2 arah, cari solusi dan jalan tengah atas konflik yang terjadi.

Bahagiakanlah hidupnya dengan nasehat-nasehat yang indah dan tidak perlu diketahui orang lain. Lagi pula, mencoba menerima pasangan just the way you are gitu.. tidak susah, bukan ? Kalau dia memiliki kekurangan, berjanjilah kita yang akan melengkapi. Begitu pula sebaliknya

Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban.

Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya.

Tanggungjawab suami yang tidak ringan diatas diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya. Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya.

Hak suami diatas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri.

Surga atau Neraka Seorang Istri
Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak.

Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantaranya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)

 

Leave a reply "Hukum Suami Sering Membentak Istri di Tempat Umum dalam Islam, Bagaimana?"

Author: 
author